MALANG | SURYA Online – Lahan pertanian menjadi lahan kering di Kabupaten Malang, semakin susut karena untuk memenuhi kebutuhan perumahan hingga industri. Tercatat, selama 2010 lahan yang susut mencapai 28 hektare, sedangkan tahun 2011 hanya 19 hektare.

 

Dalam lima tahun terakhir, Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Malang melihat trend penyusutan lahan jika dirata-rata mencapai antara 10-15 hektare pertahun. Karena itulah, produksi beras kalaupun bisa digenjot, namun tidak bisa naik terlalu banyak.

 

Purwanto, Kadis Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Malang, mengatakan lahan pertanian yang banyak menyusut terutama pada kecamantan-kecamatan perkotaan. Ia menyebut seperti di Kecamatan Lawang, Singosari, Pakisaji dan Kepanjen. ”Dinas Pertanian untuk mempertahankan ketahanan pangan hanya bisa menjaga secara teknis,” kata Purwanto di Pemkab Malang, Rabu (15/2/2012).

 

Menurutnya, pada 2010, surplus beras mencapai 61.000 ton dan kemudian naik pada 2011 mencapai 67.000 ton.  Sementara produktivitas beras pada 2010 mencapai 6,7 ton per hektare. Sedang pada 2011 mencapai 7,7 ton per hektare. Kemudian pada 2012 ini diharapkan produktivitas beras naik mencapai 5 persen.

 

Dengan kondisi itu, pihaknya menggenjot bibit unggulan baik untuk padi hibrida maupun non hibrida sehingga hasilnya bisa meningkat. “Lahan pertanian di Pakisaji-Kepanjen dalam setahun bisa panen tiga kali, tapi sering panen juga ada dampaknya yaitu mudah diserang hama,” ujarnya.

 

Nehruddin, Kepala Bappekab Malang menyatakan tahun ini pihaknya akan melakukan survei bersama Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Kabupaten Malang terkait masalah penyusutan lahan pertanian itu.

”Memang tidak bisa dihindarkan karena itu terkait masalah perkembangan jumlah penduduk. Tapi nanti harus ada lahan yang harus tetap eksis untuk dijaga,” ujar Pak Neh, panggilan akrabnya.

 

Namun Neh mengaku masih belum tahu, apakah bakal diatur dalam sebuah peraturan bupati atau bagaimana. Lahan-lahan yang harus tetap eksis itu nanti ditentukan wilayahnya. Pihaknya akan mengumpulkan data-data dari desa dan kecamatan. Perubahan-perubahan seperti itu harus dievaluasi selama lima tahun sekali agar bisa menjaga ketersediaan pangan.


sumber

sprite